Ditengah keramaian, ada suatu percakapan. Terlebih tentang kita, lagi.
Ditambah suasana yang begitu hijau didepan mata, katakanlah sawah. Iya, dan itu hijau. Tempat favorite, meski ndak terfavorit tetapi kita sering mengunjungi tempat itu. Jarak 2KM dari kampus, bahkan lebih atau mungkin 3KM atau 4KM mungkin??
Ditambah seru semangkuk es buah siap menemani percakapan.
Banyak hal yang harus kita bahas, dari nol. Sesuatu tentang diriku, sesuatu tentang dirinya pula.
banyak tanda tanya disetiap kita jumpa, bahkan oranglain pun kadang bertanya tanya tentang kita berdua.
Okeh, mari kita kupas dari awal.
Dari semester 1-akhir semester 4 tidak pernah mengobrol sesuatu yang intim dalam tanda kurung basa basi. Contohnya : “eh nes, dari mana?” “eh vit, kenapa ga masuk?” mana ada devit maupun agnes yang saling menanyakan hal seperti itu. Mungkin kalau ketemu dijalan “eh duluan ya”. Sampai inget aku pernah membuka topic pembicaraan waktu awal semester 1 bertanya “eh, logat banyuwangi kayak gitu ngomongnya?” dan itu pertama kali buka topic pembicaraan antara semester 1-4 ini.
Lalu yang semester dua dan tiga? Hehehe entahlah, tidak pernah ada maksud untuk memperhatikannya.
Lalu yang semester empat? Sebulan sebelum UAS waktu itu ditugaskan menjadi penanggung jawab band jurusan dari acara bulan pendidikan. Yang terdiri dari beberapa anak salah satunya dia.
Dan saat itu pula sebagai PJ, harus memiliki CP dari masing masing personil, saat itu pula mulai deh invite BBM dikarenakan tidak punya informasi nomor HPnya dia. Setelah itu mulai kenal (KENAL)-garis bawah
Lalu mulai suka dari mana?
Dari menjadi penanggung jawab, banyak masalah yang memang harus diselesaikan, banyak sekali problem. Rumit, hampir kehabisan akal. Salah satunya dia yang paling perduli, memang dari sifatnya yang bukan tidak mau tahu. Syukur syukur ada yang bantu mikirin. Sharing bareng, tentang band. Tidak terlintas pikiran selain diluar band. Sampai pertama nangis didepannya waktu ada masalah band, yaaah karena terlalu banyak yang difikirkan jadi biar plong aja gitu. Akhirnya dibantu mencari jalan keluar, kupikir nih anak baik banget, yang paling perduli. Ya mungkin sekedar kagum.
Lalu hanya itu saja? Tidak. Banyak hal lain, waktu mau latihan, ngasi konsumsi ke temen temen. Ternyata di kantin kulihat dia lagi masak. Tambah keren aku mengaguminya. Yang terlintas, nih anak udah baik, bisa belanja, bisa masak pula, mainin tuts piano bikin melting juga.
Hanya sekedar kagum? Tidak juga hehehe.
Pernah ada dimana aku ingin melampiaskan keteganganku disaat belajar UTS Pediatri yaitu ujian lisan. Yang awalnya ada yang mengajakku untuk belajar bareng lewat voice note BBM dengan tanya jawab, iya itu si Rahmah, yang akhirnya dia ketiduran. Dan waktu itu pula masih ngechat sama Devit. Yudah yang ada aja deh aku ajak sharing dan tanya jawab. Hitung hitung menambah ilmu jika nama terpanggil esok.
Agnes : “kelebihan kalori disebut apa vit?”
Devit : “aduh iku yo kwareken, arek TK ya isok nes hahaha”
Agnes : “itu obesitas -_- kalo kekurangan apa namanya?”
Devit : “kalo kekurangan…. Busung lapar wkwkwkw”
Agnes : “Deviiiiiiiiiiit -____-“
Devit : “aku lupa nes, apa jawabannya?”
Agnes : “marasmus”
Disaat itu pula gemes liat BBM, akhirnya voice note deh pertanyaan dan jawaban selanjutnya, pertama kali voice note mendengar suara via HP, berasa ada bisikan merdu dalam telinga, hingga larut malam.
Sesampai keesokan harinya, semua bersitegang nama siapa yang akan duduk di kursi panas nanti.
Melihat sekeliling mata mata ketegangan teman teman yang juga membuatku ikut tegang hingga tangan berubah menjadi dingin dan jantung berdegup kencang.
Satu persatu kulihat, dan mataku terhenti pada satu anak, dan ia juga memandangiku dengan tatapan yang sama, yang sebelumnya tidak pernah ada tatapan seperti itu diantara kita.
Ditambah gugup dengan itu, dan kualihkan penglihatanku.
Tunggu, masih penasaran, ternyata masih ada tatapan itu. Ah lupakan, hanya perasaanku saja.
Dimana ada kisah saat pergi hiking. Tidak tahunya, okki menyuruh aku semotor sama devit, yang awalnya gugup jika dipasangkan semotor sama devit. Kita saling bercengkeramah, bertukar cerita di pemberangkatan selama kurang lebih 3 jam lamanya.
Setelah sesampainya di pos pendaftaran dan memulai untuk keatas, yang aku rasakan dia selalu tepat berada dibelakangku. Entah aku berada di urutan 1 atau 2 atau 3 dia tetap dibelakangku. Hingga ditengah perjalanan ada suatu keadaan yang terjadi, iya, agnes menggigil. Dibantunya hingga sesampai puncak dengan menggandeng tanganku, dan itu tidak lepas selama beberapa menit atau puluhan menit atau sejam dua jam? Entahlah. Aku merasakan kehangatan. Aku merasakan kenyamanan.
Bergitu indah bulan dan para bintang, hingga aku tak ingin memejamkan mataku, dan kita bercengkeramah dari malam hingga fajar menjelang. Itu mungkin percakapan terlama untuk yang pertama diantara kita. Mungkin telah berlangsung 7 jam lamanya kita mengobrol, bahkan lebih.
Hari demi hari saling memberi kabar dan informasi, dan ada dimana hari yang memang kusengaja untuk tidak menghubunginya. Ternyata dia mencari, dan kupastikan lagi, apakah benar benar mencari atau tidak.
Setelah itu, kita sering menghabiskan waktu, bertukar pikiran, mengerjakan tugas bersama, dan banyak hal lain yang membuat jarak kita semakin dekat dan mengarah sampai akhirnya ada saat semua harus diutarakan.
Pernah ada pertanyaannya “kok bisa?”
Ini cinta, tak perlulah cinta membutuhkan waktu yang lama untuk tahu keberadaannya, ia tak pernah salah dalam memilih. Dan ini cinta, cinta segitiga. “Aku- kamu- Tuhan. Titik.”
Cinta tanpa tanda tanya. Cinta tanpa kenapa begini. Cinta tanpa kenapa begitu.
Ada ribuan kamu dikepala, menyerang logika. Bisa-bisanya tak butuh banyak putaran waktu, untuk jatuh kepadamu.
Ditambah suasana yang begitu hijau didepan mata, katakanlah sawah. Iya, dan itu hijau. Tempat favorite, meski ndak terfavorit tetapi kita sering mengunjungi tempat itu. Jarak 2KM dari kampus, bahkan lebih atau mungkin 3KM atau 4KM mungkin??
Ditambah seru semangkuk es buah siap menemani percakapan.
Banyak hal yang harus kita bahas, dari nol. Sesuatu tentang diriku, sesuatu tentang dirinya pula.
banyak tanda tanya disetiap kita jumpa, bahkan oranglain pun kadang bertanya tanya tentang kita berdua.
Okeh, mari kita kupas dari awal.
Dari semester 1-akhir semester 4 tidak pernah mengobrol sesuatu yang intim dalam tanda kurung basa basi. Contohnya : “eh nes, dari mana?” “eh vit, kenapa ga masuk?” mana ada devit maupun agnes yang saling menanyakan hal seperti itu. Mungkin kalau ketemu dijalan “eh duluan ya”. Sampai inget aku pernah membuka topic pembicaraan waktu awal semester 1 bertanya “eh, logat banyuwangi kayak gitu ngomongnya?” dan itu pertama kali buka topic pembicaraan antara semester 1-4 ini.
Lalu yang semester dua dan tiga? Hehehe entahlah, tidak pernah ada maksud untuk memperhatikannya.
Lalu yang semester empat? Sebulan sebelum UAS waktu itu ditugaskan menjadi penanggung jawab band jurusan dari acara bulan pendidikan. Yang terdiri dari beberapa anak salah satunya dia.
Dan saat itu pula sebagai PJ, harus memiliki CP dari masing masing personil, saat itu pula mulai deh invite BBM dikarenakan tidak punya informasi nomor HPnya dia. Setelah itu mulai kenal (KENAL)-garis bawah
Lalu mulai suka dari mana?
Dari menjadi penanggung jawab, banyak masalah yang memang harus diselesaikan, banyak sekali problem. Rumit, hampir kehabisan akal. Salah satunya dia yang paling perduli, memang dari sifatnya yang bukan tidak mau tahu. Syukur syukur ada yang bantu mikirin. Sharing bareng, tentang band. Tidak terlintas pikiran selain diluar band. Sampai pertama nangis didepannya waktu ada masalah band, yaaah karena terlalu banyak yang difikirkan jadi biar plong aja gitu. Akhirnya dibantu mencari jalan keluar, kupikir nih anak baik banget, yang paling perduli. Ya mungkin sekedar kagum.
Lalu hanya itu saja? Tidak. Banyak hal lain, waktu mau latihan, ngasi konsumsi ke temen temen. Ternyata di kantin kulihat dia lagi masak. Tambah keren aku mengaguminya. Yang terlintas, nih anak udah baik, bisa belanja, bisa masak pula, mainin tuts piano bikin melting juga.
Hanya sekedar kagum? Tidak juga hehehe.
Pernah ada dimana aku ingin melampiaskan keteganganku disaat belajar UTS Pediatri yaitu ujian lisan. Yang awalnya ada yang mengajakku untuk belajar bareng lewat voice note BBM dengan tanya jawab, iya itu si Rahmah, yang akhirnya dia ketiduran. Dan waktu itu pula masih ngechat sama Devit. Yudah yang ada aja deh aku ajak sharing dan tanya jawab. Hitung hitung menambah ilmu jika nama terpanggil esok.
Agnes : “kelebihan kalori disebut apa vit?”
Devit : “aduh iku yo kwareken, arek TK ya isok nes hahaha”
Agnes : “itu obesitas -_- kalo kekurangan apa namanya?”
Devit : “kalo kekurangan…. Busung lapar wkwkwkw”
Agnes : “Deviiiiiiiiiiit -____-“
Devit : “aku lupa nes, apa jawabannya?”
Agnes : “marasmus”
Disaat itu pula gemes liat BBM, akhirnya voice note deh pertanyaan dan jawaban selanjutnya, pertama kali voice note mendengar suara via HP, berasa ada bisikan merdu dalam telinga, hingga larut malam.
Sesampai keesokan harinya, semua bersitegang nama siapa yang akan duduk di kursi panas nanti.
Melihat sekeliling mata mata ketegangan teman teman yang juga membuatku ikut tegang hingga tangan berubah menjadi dingin dan jantung berdegup kencang.
Satu persatu kulihat, dan mataku terhenti pada satu anak, dan ia juga memandangiku dengan tatapan yang sama, yang sebelumnya tidak pernah ada tatapan seperti itu diantara kita.
Ditambah gugup dengan itu, dan kualihkan penglihatanku.
Tunggu, masih penasaran, ternyata masih ada tatapan itu. Ah lupakan, hanya perasaanku saja.
Dimana ada kisah saat pergi hiking. Tidak tahunya, okki menyuruh aku semotor sama devit, yang awalnya gugup jika dipasangkan semotor sama devit. Kita saling bercengkeramah, bertukar cerita di pemberangkatan selama kurang lebih 3 jam lamanya.
Setelah sesampainya di pos pendaftaran dan memulai untuk keatas, yang aku rasakan dia selalu tepat berada dibelakangku. Entah aku berada di urutan 1 atau 2 atau 3 dia tetap dibelakangku. Hingga ditengah perjalanan ada suatu keadaan yang terjadi, iya, agnes menggigil. Dibantunya hingga sesampai puncak dengan menggandeng tanganku, dan itu tidak lepas selama beberapa menit atau puluhan menit atau sejam dua jam? Entahlah. Aku merasakan kehangatan. Aku merasakan kenyamanan.
Bergitu indah bulan dan para bintang, hingga aku tak ingin memejamkan mataku, dan kita bercengkeramah dari malam hingga fajar menjelang. Itu mungkin percakapan terlama untuk yang pertama diantara kita. Mungkin telah berlangsung 7 jam lamanya kita mengobrol, bahkan lebih.
Hari demi hari saling memberi kabar dan informasi, dan ada dimana hari yang memang kusengaja untuk tidak menghubunginya. Ternyata dia mencari, dan kupastikan lagi, apakah benar benar mencari atau tidak.
Setelah itu, kita sering menghabiskan waktu, bertukar pikiran, mengerjakan tugas bersama, dan banyak hal lain yang membuat jarak kita semakin dekat dan mengarah sampai akhirnya ada saat semua harus diutarakan.
Pernah ada pertanyaannya “kok bisa?”
Ini cinta, tak perlulah cinta membutuhkan waktu yang lama untuk tahu keberadaannya, ia tak pernah salah dalam memilih. Dan ini cinta, cinta segitiga. “Aku- kamu- Tuhan. Titik.”
Cinta tanpa tanda tanya. Cinta tanpa kenapa begini. Cinta tanpa kenapa begitu.
Ada ribuan kamu dikepala, menyerang logika. Bisa-bisanya tak butuh banyak putaran waktu, untuk jatuh kepadamu.
No comments:
Post a Comment