Seperti ada di dalam hutan yang begitu rimbun sehingga cahaya matahari pun tak mampu menembusnya.
Hutan yang sangat lebat, dan hanya aku sendiri yang ditemani bebatuan, tanaman berduri serta jalan yang lembab. Kanan kiri jurang yang dalamnya beribu ribu meter.
Dan siapa tahu diujung perjalanan aku menemukan jurang juga? Siapa tahu pula bahwa setelah jurang ada sesuatu yang sangat indah.
Yang intinya jalanilah segala sesuatu tidak hanya setengah.
Sungguh, aku tidak tahu mana jalan yang akan aku lalui, kakiku berlumuran darah karena tertusuk duri duri, sepatuku telah tertinggal karena dimakan oleh lumpur yang dalam.
Hanya beralaskan kaki yang tak seindah dulu.
Dan bagaimana tidak, tangan kanan kiriku telah kaku, karena dinginnya tempat itu.
Iya, sendiri.
Aku merasa sendiri.
Aku hanya percaya keajaiban yang akan datang menghampiriku.
Sedih rasanya, berjalan sendri ke tempat yang belum pernah aku tahu.
hanya berdasarkan peta dan kompas yang aku dapati ditengah perjalanan.
Ketika banyak hal yang meyakinkanku, tetapi tidak seorangpun yang tahu posisiku berada ditempat yang mana.
Ketika ada seseorang menghampiriku dengan membawakan sebungkus bekal, tetapi ia tidak tahu bahwa tumbuhan mengenyangkanku selama bertahun tahun lamanya.
Ketika seseorang datang menghampiriku untuk membawakan aku sebuah cahaya. Bahkan sebelum ia datang menghampiriku, langkah kakiku akan menujunya.
Dan kemana pun ia pergi, langkah kakiku akan menujunya.
Tak ada rasa yang takut ketika ada alasan untuk ia ingin membunuhku cepat atau lambat.
Aku hanya berfikir dia membawa cahaya yang aku inginkan untuk perjalananku.
Dan setelah memberikanku cahaya yang cukup, ia akan pergi dariku.
Pergi yang sangat jauh. jauh dari siapun. Jauh dariku, jauh dari cahaya yang ia berikan.
Aku hanya termenung melihat langkah kakinya meninggalkanku, aku hanya melihat genggaman tangannya membawa seutas tali yang pernah kuberikan padanya.
Bukan tali yang biasa, itu adalah tali yang menghubungkan antara aku dan dia.
Bahkan ia berjalan tanpa takut akan kegelapan, sementara aku yang sangat membutuhkan cahaya darinya.
Iya, kita saling menitipkan satu sama lain.
Dan ada suatu percakapan diantara mereka bahwa mereka akan bertemu lagi diujung jalan, sesuatu yang belum pernah kita tahu.
perempuan yang takut kehilangan lelakinya. Lelaki mana yang tak takut kehilangannya?
Karena ketidaksanggupanku, hanya bisa pejamkan mata yang mana tidak bisa kubendung lagi yang didalamnya.
Yang ku bayangkan adalah lambaian tangan dengan ketidakrelaan.
Aku meminta ampun kepada Tuhan.
Sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi.
Sebab hidup jadi terasa bagaikan dinding yang dingin.
Aku harus menjadi paku.
Sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya.
Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.
Pada akhirnya, semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas.
Malam demi malam aku berada didalam hutan yang sangat dingin hingga menembus tulangku dengan dirajam gelisah pada jarum jam yang tak mau bergerak lebih cepat dari yang aku harap.
Sesegera mungkin aku ingin meletakkan tubuhku di bebatuan dan bersanding dengan kabut.
Meskipun berkali kali dia menyenyakkanku dengan kata-kata yang penuh candu. Tapi saat saat ini, sungguh membuatku ingin melompati waktu.
Kabut seperti membaca gelisahku dan kemudian menggodaku, jutaan tetes air terpelanting ke bumi dengan keras. Ah, semoga hujan ini tak memperpanjang durasi istirahatku di bebatuan itu.
Yang sebenarnya aku ingin mengatakan padamu, kamu yang lebih bercahaya dari cahya yang kau bawa. Kamulah orang yang memiliki cahaya melebihi matahari, bahwa aku ingin selalu bersamamu dalam keadaan yang sempit sekalipun, aku ingin bersamamu dalam keadaan yang ingin membunuhku sekalipun, aku ingin ikut bersamamu dan aku berjanji akan selalu tersenyum, dalam kedaan apapun yang memaksaku untuk tersenyum sekaligus, karena senyum dalam derita adalah kekuatan yang menguatkan, kita hanya perlu mayakinkan ditiap hari dan bersulang di dalam doa yang sama. Itulah anganku.
Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku dalam kedaan apapun,
jangan
jangan..
Sementara itu arah angin akan mengantarku dalam langkahmu kembali. Tetapi kau tetap pada langkahmu yang cepat, dan aku mulai mengira bahwa aku merepotkanmu selama dalam perjalanan. Dan pergilah sesukamu, kejarlah segala ingin-inginmu. Aku akan tetap disini. Karena bila ini cinta, aku selalu percaya, akulah tempatmu kembali. Dan bila kau mencintainya, biarkan ia pergi. Namun bila ia juga mencintaimu, ia takkan membiarkanmu membiarkan dirinya pergi. Jangan berfikir bila aku akan melupakanmu, karena aku mengingat aku, sebagai seseorang yang selalu mengingat kamu.
Untukmu,
Kuberi apa yang kupunya.
Kulakukan apa yang kubisa.
Untukmu,
Kan kuusahakan semampuku, dalam segala keterbatasanku.
Menyayangi itu tidak pernah merepotkan. Segala ynag baik yang dapat kulakukan untukmu, aku tidak pernah berpikir dua kali.
Hutan yang sangat lebat, dan hanya aku sendiri yang ditemani bebatuan, tanaman berduri serta jalan yang lembab. Kanan kiri jurang yang dalamnya beribu ribu meter.
Dan siapa tahu diujung perjalanan aku menemukan jurang juga? Siapa tahu pula bahwa setelah jurang ada sesuatu yang sangat indah.
Yang intinya jalanilah segala sesuatu tidak hanya setengah.
Sungguh, aku tidak tahu mana jalan yang akan aku lalui, kakiku berlumuran darah karena tertusuk duri duri, sepatuku telah tertinggal karena dimakan oleh lumpur yang dalam.
Hanya beralaskan kaki yang tak seindah dulu.
Dan bagaimana tidak, tangan kanan kiriku telah kaku, karena dinginnya tempat itu.
Iya, sendiri.
Aku merasa sendiri.
Aku hanya percaya keajaiban yang akan datang menghampiriku.
Sedih rasanya, berjalan sendri ke tempat yang belum pernah aku tahu.
hanya berdasarkan peta dan kompas yang aku dapati ditengah perjalanan.
Ketika banyak hal yang meyakinkanku, tetapi tidak seorangpun yang tahu posisiku berada ditempat yang mana.
Ketika ada seseorang menghampiriku dengan membawakan sebungkus bekal, tetapi ia tidak tahu bahwa tumbuhan mengenyangkanku selama bertahun tahun lamanya.
Ketika seseorang datang menghampiriku untuk membawakan aku sebuah cahaya. Bahkan sebelum ia datang menghampiriku, langkah kakiku akan menujunya.
Dan kemana pun ia pergi, langkah kakiku akan menujunya.
Tak ada rasa yang takut ketika ada alasan untuk ia ingin membunuhku cepat atau lambat.
Aku hanya berfikir dia membawa cahaya yang aku inginkan untuk perjalananku.
Dan setelah memberikanku cahaya yang cukup, ia akan pergi dariku.
Pergi yang sangat jauh. jauh dari siapun. Jauh dariku, jauh dari cahaya yang ia berikan.
Aku hanya termenung melihat langkah kakinya meninggalkanku, aku hanya melihat genggaman tangannya membawa seutas tali yang pernah kuberikan padanya.
Bukan tali yang biasa, itu adalah tali yang menghubungkan antara aku dan dia.
Bahkan ia berjalan tanpa takut akan kegelapan, sementara aku yang sangat membutuhkan cahaya darinya.
Iya, kita saling menitipkan satu sama lain.
Dan ada suatu percakapan diantara mereka bahwa mereka akan bertemu lagi diujung jalan, sesuatu yang belum pernah kita tahu.
perempuan yang takut kehilangan lelakinya. Lelaki mana yang tak takut kehilangannya?
Karena ketidaksanggupanku, hanya bisa pejamkan mata yang mana tidak bisa kubendung lagi yang didalamnya.
Yang ku bayangkan adalah lambaian tangan dengan ketidakrelaan.
Aku meminta ampun kepada Tuhan.
Sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi.
Sebab hidup jadi terasa bagaikan dinding yang dingin.
Aku harus menjadi paku.
Sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya.
Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.
Pada akhirnya, semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas.
Malam demi malam aku berada didalam hutan yang sangat dingin hingga menembus tulangku dengan dirajam gelisah pada jarum jam yang tak mau bergerak lebih cepat dari yang aku harap.
Sesegera mungkin aku ingin meletakkan tubuhku di bebatuan dan bersanding dengan kabut.
Meskipun berkali kali dia menyenyakkanku dengan kata-kata yang penuh candu. Tapi saat saat ini, sungguh membuatku ingin melompati waktu.
Kabut seperti membaca gelisahku dan kemudian menggodaku, jutaan tetes air terpelanting ke bumi dengan keras. Ah, semoga hujan ini tak memperpanjang durasi istirahatku di bebatuan itu.
Yang sebenarnya aku ingin mengatakan padamu, kamu yang lebih bercahaya dari cahya yang kau bawa. Kamulah orang yang memiliki cahaya melebihi matahari, bahwa aku ingin selalu bersamamu dalam keadaan yang sempit sekalipun, aku ingin bersamamu dalam keadaan yang ingin membunuhku sekalipun, aku ingin ikut bersamamu dan aku berjanji akan selalu tersenyum, dalam kedaan apapun yang memaksaku untuk tersenyum sekaligus, karena senyum dalam derita adalah kekuatan yang menguatkan, kita hanya perlu mayakinkan ditiap hari dan bersulang di dalam doa yang sama. Itulah anganku.
Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku dalam kedaan apapun,
jangan
jangan..
Sementara itu arah angin akan mengantarku dalam langkahmu kembali. Tetapi kau tetap pada langkahmu yang cepat, dan aku mulai mengira bahwa aku merepotkanmu selama dalam perjalanan. Dan pergilah sesukamu, kejarlah segala ingin-inginmu. Aku akan tetap disini. Karena bila ini cinta, aku selalu percaya, akulah tempatmu kembali. Dan bila kau mencintainya, biarkan ia pergi. Namun bila ia juga mencintaimu, ia takkan membiarkanmu membiarkan dirinya pergi. Jangan berfikir bila aku akan melupakanmu, karena aku mengingat aku, sebagai seseorang yang selalu mengingat kamu.
Untukmu,
Kuberi apa yang kupunya.
Kulakukan apa yang kubisa.
Untukmu,
Kan kuusahakan semampuku, dalam segala keterbatasanku.
Menyayangi itu tidak pernah merepotkan. Segala ynag baik yang dapat kulakukan untukmu, aku tidak pernah berpikir dua kali.
Teruntukmu
Yang selalu menyayangi aku






