Saturday, 20 February 2016

Teruntukmu, yang selalu menyayangi aku

Seperti  ada di dalam hutan yang begitu rimbun sehingga cahaya matahari pun tak mampu menembusnya.
Hutan yang sangat lebat, dan hanya aku sendiri yang ditemani bebatuan, tanaman berduri serta jalan yang lembab. Kanan kiri jurang yang dalamnya beribu ribu meter.
Dan siapa tahu diujung perjalanan aku menemukan jurang juga? Siapa tahu pula bahwa setelah jurang ada sesuatu yang sangat indah.

Yang intinya jalanilah segala sesuatu tidak hanya setengah.

Sungguh, aku tidak tahu mana jalan yang akan aku lalui, kakiku berlumuran darah karena tertusuk duri duri, sepatuku telah tertinggal karena dimakan oleh lumpur yang dalam.
Hanya beralaskan kaki yang tak seindah dulu.
Dan bagaimana tidak, tangan kanan kiriku telah kaku, karena dinginnya tempat itu.
Iya, sendiri.
 Aku  merasa sendiri.
Aku hanya percaya keajaiban yang akan datang menghampiriku.
Sedih rasanya, berjalan sendri ke tempat yang belum pernah aku tahu.
hanya berdasarkan peta dan kompas yang aku dapati ditengah perjalanan.

Ketika banyak hal yang meyakinkanku, tetapi tidak seorangpun yang tahu posisiku berada ditempat yang mana.
Ketika ada seseorang menghampiriku dengan membawakan sebungkus bekal, tetapi ia tidak tahu bahwa tumbuhan mengenyangkanku selama bertahun tahun lamanya.
Ketika seseorang datang menghampiriku untuk membawakan aku sebuah cahaya. Bahkan sebelum ia datang menghampiriku, langkah kakiku akan menujunya.

Dan kemana pun ia pergi, langkah kakiku akan menujunya.
Tak ada rasa yang takut ketika ada alasan untuk ia ingin membunuhku cepat atau lambat.
Aku hanya berfikir dia membawa cahaya yang aku inginkan untuk perjalananku.
Dan setelah memberikanku cahaya yang cukup, ia akan pergi dariku.
Pergi yang sangat jauh. jauh dari siapun. Jauh dariku, jauh dari cahaya yang ia berikan.

Aku hanya termenung melihat langkah kakinya meninggalkanku, aku hanya melihat genggaman tangannya membawa seutas tali yang pernah kuberikan padanya.
Bukan tali yang biasa, itu adalah tali yang menghubungkan antara aku dan dia.
Bahkan ia berjalan tanpa takut akan kegelapan, sementara aku yang sangat membutuhkan cahaya darinya.
Iya, kita saling menitipkan satu sama lain.
Dan ada suatu percakapan diantara mereka bahwa mereka akan bertemu lagi diujung jalan, sesuatu yang belum pernah kita tahu.
 perempuan yang takut kehilangan lelakinya. Lelaki mana yang tak takut kehilangannya?

Karena ketidaksanggupanku, hanya bisa pejamkan mata yang mana tidak bisa kubendung lagi yang didalamnya.
Yang ku bayangkan adalah lambaian tangan dengan ketidakrelaan.
Aku meminta ampun kepada Tuhan.
Sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi.
Sebab hidup  jadi terasa bagaikan dinding yang dingin.
Aku harus menjadi paku.
Sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya.
Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.
Pada akhirnya, semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas.

Malam demi malam aku berada didalam hutan yang sangat dingin hingga menembus tulangku dengan dirajam gelisah pada jarum jam yang tak mau bergerak lebih cepat dari yang aku harap.
Sesegera mungkin aku ingin meletakkan tubuhku di bebatuan dan bersanding dengan kabut.

Meskipun berkali kali dia menyenyakkanku dengan kata-kata yang penuh candu. Tapi saat saat ini, sungguh membuatku ingin melompati waktu.
Kabut seperti membaca gelisahku dan kemudian menggodaku, jutaan tetes air terpelanting ke bumi dengan keras. Ah, semoga hujan ini tak memperpanjang durasi istirahatku di bebatuan itu.
Yang sebenarnya aku ingin mengatakan padamu, kamu yang lebih bercahaya dari cahya yang kau bawa. Kamulah orang yang memiliki cahaya melebihi matahari, bahwa aku ingin selalu bersamamu dalam keadaan yang sempit sekalipun, aku ingin bersamamu dalam keadaan yang ingin membunuhku sekalipun, aku ingin ikut bersamamu dan aku berjanji akan selalu tersenyum, dalam kedaan apapun yang memaksaku untuk tersenyum sekaligus, karena senyum dalam derita adalah kekuatan yang menguatkan, kita hanya perlu mayakinkan ditiap hari dan bersulang di dalam doa yang sama. Itulah anganku.

Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku dalam kedaan apapun,
jangan
 jangan..

 Sementara itu arah angin akan mengantarku dalam langkahmu kembali. Tetapi kau tetap pada langkahmu yang cepat, dan aku mulai mengira bahwa aku merepotkanmu selama dalam perjalanan.  Dan pergilah sesukamu, kejarlah segala ingin-inginmu. Aku akan tetap disini. Karena bila ini cinta, aku selalu percaya, akulah tempatmu kembali. Dan bila kau mencintainya, biarkan ia pergi. Namun bila ia juga mencintaimu, ia takkan membiarkanmu membiarkan dirinya pergi. Jangan berfikir bila aku akan melupakanmu, karena aku mengingat aku, sebagai seseorang yang selalu mengingat kamu.
Untukmu,
Kuberi apa yang kupunya.
Kulakukan apa yang kubisa.
Untukmu,
Kan kuusahakan semampuku, dalam segala keterbatasanku.
Menyayangi itu tidak pernah merepotkan. Segala ynag baik yang dapat kulakukan untukmu, aku tidak pernah berpikir dua kali.



Teruntukmu
Yang selalu menyayangi aku


Monday, 15 February 2016

Senada Dengan Hati yang Berbicara



“tolong bawakan aku seseorang”
“yang bernama devit”
“trimakasih”
.

                Seperti ada pelangi dalam pikiran saat aku memandanginya dalam diam, seperti ada keajaiban saat melihat dari sisi lebih dan kurangnya. 

Dan apapun itu. 
Cara mu memperhatikanku dan mengingatkanku terkadang sikap acuhku yang akan kau dapati. caramu membuatku mengerti hanya dengan satu sentuhan kata, yang hanya mampu membuat air mata turun meluluhkan hati yang keras. Tak perlu kau mengusapnya, aku hanya ingin meluluhkan hati yang keras melalui caraku.
                Dan kita tahu, betapa seringkali kesalahan itu muncul tanpa ada yang salah, lalu tanpa disadari wkita saling menyalahi hingga akhirnya kita menyalahkan diri masing masing. Hingga air mata sering menjadi penengah antara kita. Dan saling memeluk seutas kata masing masing agar tak melukainya lagi.
                 Masa masa bodoh, bersikap kekanak kanakan, bersikap dewasa. Kita pernah melalui itu. Bagaikan proses telah menanti kita. Berlari bersama, terhempas bersama, terjatuh bersama, tertawa bersama, menangis bersama, hadapi bersama, itu yang akan kita inginkan dalam proses ini.
                Kau melemahkanku, kau juga menguatkanku. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu. Bahkan hal yang tidak aku sukai darimu, aku berusaha menyayangi itu dan menerima segala sesuatu yang ingin memang aku pertahankan. Bukan karena cinta buta, melainkan menuntun ke jalan yang semestinya untuk tujuan yang sama.
.
Kau bilang tujuanmu adalah aku..

Kau bilang hal yang terpenting ialah membahagiakan aku..

kau bilang banyak hal yang mungkin tak banyak aku ingat, karena apa yang kau bicarakan adalah senada dengan hatiku yang berbicara.
Dan aku hanya bisa berdoa, semoga usahamu dan harapanmu lah yang akan berdiskusi dengan takdir. Aku menyatu dalam usaha dan harapanmu, begitu juga dirimu yang menyatu dengan usaha dan harapanku.

aku dan nahkodaku




Angin berlalu melepaskan semua asa. dan mengembalikan segala sesuatu yang mungkin aku dapati.. lagi..
serta angin membawakan semua angan untuk mengirimkan ke alam semesta.

Harapanku..
tujuanku..
dan inginku untukmu hanya satu.
untuk bersama,
dan aku ingin kita tetap tertawa bersama-sama, tak peduli hingga nanti gigimu tinggal satu, atau ubanku yang tumbuh seribu.

Harapan ada karena kita, 
harapan ada karena sesuatu yang kita awali bersama, 
harapan ada ketika saling melengkapi dan harapan ada ketika kita mampu menghadapi dan menyelesaikan segala permasalahan bersama.
Saling memberi dan memahami.
Saling menyayangi dan memaafkan. 
Saling mengerti dan menghargai. 


Yang terkadang hubungan seperti ombak yang terkadang pasang dan surut, dan kita berlabuh di atasnya. 
Kau nahkoda dan aku kapalnya. 
Kita bisa menjelajahi di pelabuhan mana saja yang kita inginkan, padahal kita tahu untuk mencapai tujuan aka nada rintangan.
Dan..


Disana, ada pulau yang sangat indah, dimana tempat itulah seseorang bisa menenangkan diri untuk melepaskan semua beban pikiran. 
Dan itu sebagai tujuan kita meski dengan jarak tempuh yang sangat panjang dan lama. Kita hanya percaya, bahwa kita mampu melampaui segala rintangan yang menghadang.
Aku percaya bahwa kau nahkoda terhebat yang dapat mengemudikanku dengan cara yang hebat pula.
Dan kau pula percaya, bahwa kapalmu ini adalah kapal yang terkokoh yang pernah ada meski layarku sudah tak lagi indah, dan puing puing sudah tak lagi lengkap. 
Kitapun berlayar walaupun didepan telah ada badai yang sangat besar disertai angin kencang, serta ombak yang seolah ingin menghancurkanku, karena semua akan kembali kepada tekad dan tujuan kita.
Karena Tuhan hebat, 
Ia mempertemukan mu dengan ku, untuk saling percaya bahwa sekeras apapun cobaan kita saling menghadapi dan menyelesaikannya.


Wednesday, 9 December 2015

aku dan inginku

lama tak kubuka benda ini, menunggu beberapa waktu untuk melemaskan jari jari ini lagi. dan tak seperti biasanya aku harus memulai nya lagi seperti awal. hmm..ruangan ini dingin, karena baju tipisku tak mampu menyelimuti ku dengan hangat. di tambah aku ditemani oleh segelas float dan kentang goreng. dimana banyak orang berlalu lalang dengan kesibukannya. mungkin aku sudah mulai bosan dengan keadaan ruangan ini. ruangan yang tidak menyimpan banyak kenangan tetapi aku mulai mengenang satu demi satu kejadian yang pernah kudapati. ini tentangku dan kejadian yang ada disekitarku.
banyak hal yang mungkin aku jumpai hari demi hari yang mungkin aku juga menyadarinya.
hariku banyak berubah..
ditambah dengan persoalan persoalan baru yang memaksaku untuk menjadi diriku yang baru.
aku adalah aku yang dia kenal. tetap dengan polos dan tegasnya dia tetap menerimaku seperti yang dia tahu siapa aku. tetap dia mengenalku dengan apa yang dia tahu tentangku. selama 7 bulan belakangan memang hariku bersamanya. banyak sekali hal hal yang aku ingin tulis disini, karena mungkin memoriku terlalu banyak untuk kusimpan sendiri dalam anganku. dalam setiap detik pun kita memiliki momen. dalam setiap menit, jam, bulan.

hal yang mungkin dia tahu siapa aku sebenarnya. aku keras, aku sensitif, aku sang pembuat api, aku bla bla bla..
itulah aku, itulah diriku, itulah sebenarnya orang yang bersamamu selama ini, itu aku. :)
setiap orang memiliki ciri khas yang mungkin itu adalah cara mereka mewarnai hidup mereka, dan siapa sangka dibalik itu semua ada keluarbiasaan yang tidak semua orang miliki.

terkadang aku hanya bingung dan memikirkan, who am I? siapa aku?
terkadang aku mengelak bahwa aku bukan seperti itu ketika orang lain menilai, itu hanyalah aku yang lain ketika aku terancam. aku seperti kaktus, yang membutuhkanmu bagaikan air, namun aku juga memiliki duri dan duriku berbahaya ketika aku terancam.
namun kau telah sadar, kau adalah air, dan kau itu kebutuhanku.

aku telah siap.
aku telah siap dalam segala hal.
bersamamu itu aku ingin.
bersamamu itu harapku.
bersamamu itu aku ingin wujudkan.
aku telah siap dalam resiko apapun aku ingin bersamamu.
aku siap berjuang.
aku siap.
katakanlah setiap perjuangan dan tetes airmataku adalah kekuatan bagiku.
langkah kakiku akan selalu mengarah kepadamu, dimanapun kamu berada.

karena aku sanggup.

Sunday, 21 June 2015

kisah~

Ditengah keramaian, ada suatu percakapan. Terlebih tentang kita, lagi.
Ditambah suasana yang begitu hijau didepan mata, katakanlah sawah. Iya, dan itu hijau. Tempat favorite, meski ndak terfavorit tetapi kita sering mengunjungi tempat itu. Jarak 2KM dari kampus, bahkan lebih atau mungkin 3KM atau 4KM mungkin??
Ditambah seru semangkuk es buah siap menemani percakapan.
Banyak hal yang harus kita bahas, dari nol. Sesuatu tentang diriku, sesuatu tentang dirinya pula.
banyak tanda tanya disetiap kita jumpa, bahkan oranglain pun kadang bertanya tanya tentang kita berdua.
Okeh, mari kita kupas dari awal.

Dari semester 1-akhir semester 4 tidak pernah mengobrol sesuatu yang intim dalam tanda kurung basa basi. Contohnya : “eh nes, dari mana?” “eh vit, kenapa ga masuk?” mana ada devit maupun agnes yang saling menanyakan hal seperti itu. Mungkin kalau ketemu dijalan “eh duluan ya”. Sampai inget aku pernah membuka topic pembicaraan waktu awal semester 1 bertanya “eh, logat banyuwangi kayak gitu ngomongnya?” dan itu pertama kali buka topic pembicaraan antara semester 1-4 ini.

Lalu yang semester dua dan tiga? Hehehe entahlah, tidak pernah ada maksud untuk memperhatikannya.
Lalu yang semester empat? Sebulan sebelum UAS waktu itu ditugaskan menjadi penanggung jawab band jurusan dari acara bulan pendidikan. Yang terdiri dari beberapa anak salah satunya dia.
Dan saat itu pula sebagai PJ, harus memiliki CP dari masing masing personil, saat itu pula mulai deh invite BBM dikarenakan tidak punya informasi nomor HPnya dia. Setelah itu mulai kenal (KENAL)-garis bawah

Lalu mulai suka dari mana?
Dari menjadi penanggung jawab, banyak masalah yang memang harus diselesaikan, banyak sekali problem. Rumit, hampir kehabisan akal. Salah satunya dia yang paling perduli, memang dari sifatnya yang bukan tidak mau tahu. Syukur syukur ada yang bantu mikirin. Sharing bareng, tentang band. Tidak terlintas pikiran selain diluar band. Sampai pertama nangis didepannya waktu ada masalah band, yaaah karena terlalu banyak yang difikirkan jadi biar plong aja gitu. Akhirnya dibantu mencari jalan keluar, kupikir nih anak baik banget, yang paling perduli. Ya mungkin sekedar kagum.

Lalu hanya itu saja? Tidak. Banyak hal lain, waktu mau latihan, ngasi konsumsi ke temen temen. Ternyata di kantin kulihat dia lagi masak. Tambah keren aku mengaguminya. Yang terlintas, nih anak udah baik, bisa belanja, bisa masak pula, mainin tuts piano bikin melting juga.

Hanya sekedar kagum? Tidak juga hehehe.
Pernah ada dimana aku ingin melampiaskan keteganganku disaat belajar UTS Pediatri yaitu ujian lisan. Yang awalnya ada yang mengajakku untuk belajar bareng lewat voice note BBM dengan tanya jawab, iya itu si Rahmah, yang akhirnya dia ketiduran. Dan waktu itu pula masih ngechat sama Devit. Yudah yang ada aja deh aku ajak sharing dan tanya jawab. Hitung hitung menambah ilmu jika nama terpanggil esok.

Agnes : “kelebihan kalori disebut apa vit?”
Devit : “aduh iku yo kwareken, arek TK ya isok nes hahaha”
Agnes : “itu obesitas -_- kalo kekurangan apa namanya?”
Devit : “kalo kekurangan…. Busung lapar wkwkwkw”
Agnes : “Deviiiiiiiiiiit -____-“
Devit : “aku lupa nes, apa jawabannya?”
Agnes : “marasmus”

Disaat itu pula gemes liat BBM, akhirnya voice note deh pertanyaan dan jawaban selanjutnya, pertama kali voice note mendengar suara via HP, berasa ada bisikan merdu dalam telinga, hingga larut malam.
Sesampai keesokan harinya, semua bersitegang nama siapa yang akan duduk di kursi panas nanti.
Melihat sekeliling mata mata ketegangan teman teman yang juga membuatku ikut tegang hingga tangan berubah menjadi dingin dan jantung berdegup kencang.
Satu persatu kulihat, dan mataku terhenti pada satu anak, dan ia juga memandangiku dengan tatapan yang sama, yang sebelumnya tidak pernah ada tatapan seperti itu diantara kita.
Ditambah gugup dengan itu, dan kualihkan penglihatanku.
Tunggu, masih penasaran, ternyata masih ada tatapan itu. Ah lupakan, hanya perasaanku saja.

Dimana ada kisah saat pergi hiking. Tidak tahunya, okki menyuruh aku semotor sama devit, yang awalnya gugup jika dipasangkan semotor sama devit. Kita saling bercengkeramah, bertukar cerita di pemberangkatan selama kurang lebih 3 jam lamanya.
Setelah sesampainya di pos pendaftaran dan memulai untuk keatas, yang aku rasakan dia selalu tepat berada dibelakangku. Entah aku berada di urutan 1 atau 2 atau 3 dia tetap dibelakangku. Hingga ditengah perjalanan ada suatu keadaan yang terjadi, iya, agnes menggigil. Dibantunya hingga sesampai puncak dengan menggandeng tanganku, dan itu tidak lepas selama beberapa menit atau puluhan menit atau sejam dua jam? Entahlah. Aku merasakan kehangatan. Aku merasakan kenyamanan.

Bergitu indah bulan dan para bintang, hingga aku tak ingin memejamkan mataku, dan kita bercengkeramah dari malam hingga fajar menjelang. Itu mungkin percakapan terlama untuk yang pertama diantara kita. Mungkin telah berlangsung 7 jam lamanya kita mengobrol, bahkan lebih.

Hari demi hari saling memberi kabar dan informasi, dan ada dimana hari yang memang kusengaja untuk tidak menghubunginya. Ternyata dia mencari, dan kupastikan lagi, apakah benar benar mencari atau tidak.

Setelah itu, kita sering menghabiskan waktu, bertukar pikiran, mengerjakan tugas bersama, dan banyak hal lain yang membuat jarak kita semakin dekat dan mengarah sampai akhirnya ada saat semua harus diutarakan.

Pernah ada pertanyaannya “kok bisa?”
Ini cinta, tak perlulah cinta membutuhkan waktu yang lama untuk tahu keberadaannya, ia tak pernah salah dalam memilih. Dan ini cinta, cinta segitiga. “Aku- kamu- Tuhan. Titik.”
Cinta tanpa tanda tanya. Cinta tanpa kenapa begini. Cinta tanpa kenapa begitu.
Ada ribuan kamu dikepala, menyerang logika. Bisa-bisanya tak butuh banyak putaran waktu, untuk jatuh kepadamu.


Friday, 19 June 2015

hatiku meredam-

Ada banyak pintu yang sengaja aku tutup secara paksa. Ada satu pintu yang rela kubuka hanya untuk melihat sebuah cahaya, iya itu cahaya yang kupilih untuk lebih menunjukkanku jalan yang sesungguhnya. Ada berapa cahaya yang sepertinya? Ada berapa orang yang sepertiku yang menemukan cahaya seperti cahayaku?

Cahayaku hilang, ia pergi menolong orang lain yang sama seperti diriku, tapi itu lain. Sang cahaya hanya ingin menunjukkan apa yang dapat ia perbuat demi orang itu.


Gelap, pintu yang kubuka awalnya, sedikit kututup. Cahayanya terlalu terang untukku, maka dari itu ia membagi cahayanya sebagai dirinya sendiri. Iya ini aku, aku tak mau cahaya yang bukan darinya. Aku menunggu cahaya itu datang lagi, dibawah awan gelap yang menggumpal tebal tepat diatasku. Kurasa hujan akan turun, kurasa…
Aku cemburu, karena aku takut. Aku takut gelap. Cahaya itu bahagiaku, sekarang, suatu saat, dan nantinya.
Aku cemburu, karena aku egois. Maafkan aku yang terlalu menuntut untuk menjadi yang pertama dalam semua daftar kepentingan dalam hidupmu sayang, aku terlalu takut suatu saat jika ada yang mengancam kedudukanku dalam cintamu. Kurasakan hati ini meradang dengan kesedihan, kemarahan.
Tapi aku tak ingin kau terganggu dengan sikapku yang terkadang menjadi dingin ketika aku meredam segala kegelisahan, namun aku juga tak ingin kau terganggu oleh semua ocehan dan keluhanku.



Tapi, semoga kau paham, bahwa aku disini bukan wanita yang benar kuat adanya.
Semoga kau pantas untuk aku cemburui sayang..

Thursday, 18 June 2015

Tidak Dicintaimu

Karena aku sudah terlanjur mencintaimu, seperti rahim yang tak mungkin menelan lagi anaknya. Sekalipun laba-laba telah membangun sarangnya dalam hatimu, sesungguhnya aku tidak ingin keluar atau biarlah di dalamnya aku disekap! Dengan nafas yang terengah-engah, teriring isak yang tersandung-sandung di tenggorokan, inilah aku yang betapa ingin membangkitkanmu yang tergeletak. Mungkin ini garis terberat aku mencintaimu. Ada baiknya aku memohon ampun, mengakui kelemahan, menjunjung tinggi belas kasihan dan tak lupa berterima-kasih. Sayang, aku tidak hanya ingin sekadar ada, tetapi siap dan lagi bisa. Bila lengah mata melihat atau lelah pundak memikul, ketahuilah langkahku tetaplah engkau!
Aku ingin terlempar untuk membentur bola matamu, lalu terus menggelinding di atas tiap esokmu. Bagiku, wajah yang dipukul telak masih lebih ringan daripada tidak dipeluk kamu di saat-saat seperti ini. Karena tidak dicintaimu adalah sesuatu yang baru, yang membuatku merasa asing di antara segala hati yang membuka pintunya.
Di dalam tubuhku, di dalam hidupku, kaulah darahku, alasan degup jantungku! Kini aku merasa bahwa hatimu telah menelanku hidup-hidup. Apakah aku melantur? Tidak. Aku hanya takut menjadi bangkai di dalam hatimu. Itu saja.

Teruntukmu, yang selalu menyayangi aku

Seperti  ada di dalam hutan yang begitu rimbun sehingga cahaya matahari pun tak mampu menembusnya. Hutan yang sangat lebat, dan hanya aku...