“tolong bawakan aku seseorang”
“yang bernama devit”
“trimakasih”
.
Seperti
ada pelangi dalam pikiran saat aku memandanginya dalam diam, seperti ada
keajaiban saat melihat dari sisi lebih dan kurangnya.
Dan apapun itu.
Cara mu
memperhatikanku dan mengingatkanku terkadang sikap acuhku yang akan kau dapati.
caramu membuatku mengerti hanya dengan satu sentuhan kata, yang hanya mampu
membuat air mata turun meluluhkan hati yang keras. Tak perlu kau mengusapnya,
aku hanya ingin meluluhkan hati yang keras melalui caraku.
Dan
kita tahu, betapa seringkali kesalahan itu muncul tanpa ada yang salah, lalu
tanpa disadari wkita saling menyalahi hingga akhirnya kita menyalahkan diri
masing masing. Hingga air mata sering menjadi penengah antara kita. Dan saling
memeluk seutas kata masing masing agar tak melukainya lagi.
Masa masa bodoh, bersikap kekanak kanakan,
bersikap dewasa. Kita pernah melalui itu. Bagaikan proses telah menanti kita.
Berlari bersama, terhempas bersama, terjatuh bersama, tertawa bersama, menangis
bersama, hadapi bersama, itu yang akan kita inginkan dalam proses ini.
Kau
melemahkanku, kau juga menguatkanku. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu.
Bahkan hal yang tidak aku sukai darimu, aku berusaha menyayangi itu dan
menerima segala sesuatu yang ingin memang aku pertahankan. Bukan karena cinta
buta, melainkan menuntun ke jalan yang semestinya untuk tujuan yang sama.
.
Kau bilang tujuanmu adalah aku..
Kau bilang hal yang terpenting ialah
membahagiakan aku..
kau bilang banyak hal yang mungkin tak banyak
aku ingat, karena apa yang kau bicarakan adalah senada dengan hatiku yang
berbicara.
Dan aku hanya bisa berdoa, semoga usahamu
dan harapanmu lah yang akan berdiskusi dengan takdir. Aku menyatu dalam usaha
dan harapanmu, begitu juga dirimu yang menyatu dengan usaha dan harapanku.

No comments:
Post a Comment