“Mencanduimu”
Devit : “sayang itu, ibarat narkoba semakin di nikmati semakin kepingin lagi dan lagi.”
Agnes : “kau tahu, bukan hanya itu. Aku berbicara tentang rindu. Kurasa ini bukan hanya sekedar rindu vit, melainkan aku mencanduimu. Bahkan kau lebih dari sekedar narkotika buatku.”
Devit :” jika seperti itu, aku sependapat, ketika ini bukan lagi sekedar suka atau cinta, bahkan lebih dari ini itu, aku merasakan pula seperti itu. Dan kamu yang membuatku terasa hidup kembali. Untuk harapanku, semoga aku menjadi pemimpin, dan aku bisa membanggakan semua orang terutama orang yang mencintaiku.”
Agnes : “bukan aku yang membuatmu hidup kembali, melainkan ini adalah semangatmu. Ini adalah semangatmu untuk jatuh cinta lagi, semangatmu untuk membuka hatimu lagi. Ternyata aku berhasil, aku tidak hanya mengetuk hatimu, melainkan mendobrak pintu hatimu untuk jatuh cinta lagi. Dan kamu, sekarang, bukan hanya sekedar pemimpin bagi dirimu sendiri. Untuk itu, berbanggalah pada dirimu sendiri, bahwa kau lebih mampu dari apa yang kau harapkan.”
Devit : “aku bukan mengatakan soal cinta, tetapi berkata seluruh total hidupku merasa telah bangkit kembali”
Kamu beda, denganmu kubisa merubah semua, dan diriku mampu mengecat ulang rumah yang kusam. Dan aku dapat bangun dari tidurku yang lama.
Agnes : “ketahuilah setiap orang yang kau jumpai itu berbeda. Hal yang dapat mengistimewakanku adalah dirimu sendiri.
Dan kau hanya tidur sejenak, disini kau bukanlah pangeran tidur dan menunggu putrid berkudamu untuk mencium dan membangunkanmu bangkit. Disini kau hanyalah seorang Devit yang butuh seseorang untuk dapat menjadikanmu Devit yang baru.”
Devit : “yang terpenting, dengamu aku mampu dan ku akan rubah dunia, walaupun aku telah sadar bahwa kumasih belum punya apa apa yang kubanggakan bukanlah harta pangkat atau tahta. Tapi kelak akan ku buktikan semua”
Agnes : “kamu memang hanyalah tulang dan seonggok daging. Tapi sungguh aku percaya kau. Aku mempercayaimu bahwa kelak nantinya kaulah yang dapat merubah hidupmu.”
Devit : “semoga kita bersama bisa saling melengkapi, tak akan tergoyah walau ada badai datang, walau jurang menantikan kita. Ibarat pepes yang mentah, dan harus membutuhkan api untuk supaya aku bisa matang”
Agnes : “api adalah cinta kita, dan aku hanyalah arang dan batu bara agar membuatmu menjadi matang. Aku bukanlah penikmatmu yang hanya terima hidanganmu. Aku adalah prosesmu”
Devit : “hahahaha, kita bicara jauh tentang itu, harapanmu apa untuk saat ini?”
Agnes : “kau tahu saat ini aku berharap banyak.”
Devit : “silahkan list dalam daftar, coretlah yang telah tercapai, buatlah catatan harapan sayang”
Agnes : “aku takut nanti lembar yang aku tulis tidak muat, dan tinta yang aku gunakan tidak cukup”
Devit : “jika nantinya lembaranmu tidak muat, silahkan gunakanlah milikku, jika nantinya tintanya habis, pakailah darahku. Pasti itu akan cukup.”
Agnes : “bagaimana jika aku hanya ingin menulis dalam hatimu?”
Devit :”akan ku gusur terlebih dahulu bangunan yang ada di hatiku”
Agnes : “lalu jika seperti itu bagaimana caraku menulisnya? Boleh kau tunjukkan bagaimana caranya sayang? Tolong tunjukkan aku, bagaimana ku melakukannya?
Devit : “jawabannya ada di dalam hati kita masing masing. Malam ini sudah terlalu larut, tidurlah, aku tak ingin ada garis hitam dibawah indahnya mata kamu”
Agnes : “baiklah, tidurlah kau dengan segera, berdoalah malaikat menjagamu, mimpikan aku selagi bisa. Ku nantikan kau dilain hari saat kita berjumpa”
Devit : “selamat tidur”
Devit : “sayang itu, ibarat narkoba semakin di nikmati semakin kepingin lagi dan lagi.”
Agnes : “kau tahu, bukan hanya itu. Aku berbicara tentang rindu. Kurasa ini bukan hanya sekedar rindu vit, melainkan aku mencanduimu. Bahkan kau lebih dari sekedar narkotika buatku.”
Devit :” jika seperti itu, aku sependapat, ketika ini bukan lagi sekedar suka atau cinta, bahkan lebih dari ini itu, aku merasakan pula seperti itu. Dan kamu yang membuatku terasa hidup kembali. Untuk harapanku, semoga aku menjadi pemimpin, dan aku bisa membanggakan semua orang terutama orang yang mencintaiku.”
Agnes : “bukan aku yang membuatmu hidup kembali, melainkan ini adalah semangatmu. Ini adalah semangatmu untuk jatuh cinta lagi, semangatmu untuk membuka hatimu lagi. Ternyata aku berhasil, aku tidak hanya mengetuk hatimu, melainkan mendobrak pintu hatimu untuk jatuh cinta lagi. Dan kamu, sekarang, bukan hanya sekedar pemimpin bagi dirimu sendiri. Untuk itu, berbanggalah pada dirimu sendiri, bahwa kau lebih mampu dari apa yang kau harapkan.”
Devit : “aku bukan mengatakan soal cinta, tetapi berkata seluruh total hidupku merasa telah bangkit kembali”
Kamu beda, denganmu kubisa merubah semua, dan diriku mampu mengecat ulang rumah yang kusam. Dan aku dapat bangun dari tidurku yang lama.
Agnes : “ketahuilah setiap orang yang kau jumpai itu berbeda. Hal yang dapat mengistimewakanku adalah dirimu sendiri.
Dan kau hanya tidur sejenak, disini kau bukanlah pangeran tidur dan menunggu putrid berkudamu untuk mencium dan membangunkanmu bangkit. Disini kau hanyalah seorang Devit yang butuh seseorang untuk dapat menjadikanmu Devit yang baru.”
Devit : “yang terpenting, dengamu aku mampu dan ku akan rubah dunia, walaupun aku telah sadar bahwa kumasih belum punya apa apa yang kubanggakan bukanlah harta pangkat atau tahta. Tapi kelak akan ku buktikan semua”
Agnes : “kamu memang hanyalah tulang dan seonggok daging. Tapi sungguh aku percaya kau. Aku mempercayaimu bahwa kelak nantinya kaulah yang dapat merubah hidupmu.”
Devit : “semoga kita bersama bisa saling melengkapi, tak akan tergoyah walau ada badai datang, walau jurang menantikan kita. Ibarat pepes yang mentah, dan harus membutuhkan api untuk supaya aku bisa matang”
Agnes : “api adalah cinta kita, dan aku hanyalah arang dan batu bara agar membuatmu menjadi matang. Aku bukanlah penikmatmu yang hanya terima hidanganmu. Aku adalah prosesmu”
Devit : “hahahaha, kita bicara jauh tentang itu, harapanmu apa untuk saat ini?”
Agnes : “kau tahu saat ini aku berharap banyak.”
Devit : “silahkan list dalam daftar, coretlah yang telah tercapai, buatlah catatan harapan sayang”
Agnes : “aku takut nanti lembar yang aku tulis tidak muat, dan tinta yang aku gunakan tidak cukup”
Devit : “jika nantinya lembaranmu tidak muat, silahkan gunakanlah milikku, jika nantinya tintanya habis, pakailah darahku. Pasti itu akan cukup.”
Agnes : “bagaimana jika aku hanya ingin menulis dalam hatimu?”
Devit :”akan ku gusur terlebih dahulu bangunan yang ada di hatiku”
Agnes : “lalu jika seperti itu bagaimana caraku menulisnya? Boleh kau tunjukkan bagaimana caranya sayang? Tolong tunjukkan aku, bagaimana ku melakukannya?
Devit : “jawabannya ada di dalam hati kita masing masing. Malam ini sudah terlalu larut, tidurlah, aku tak ingin ada garis hitam dibawah indahnya mata kamu”
Agnes : “baiklah, tidurlah kau dengan segera, berdoalah malaikat menjagamu, mimpikan aku selagi bisa. Ku nantikan kau dilain hari saat kita berjumpa”
Devit : “selamat tidur”
Ciyeeehh.... ternyataaa, bahagiaa lihat kalian~
ReplyDeleteTerimakasih tata :D
Deletemoga berlanjut
ReplyDeleteCewek paling cantik