Sunday, 21 June 2015

kisah~

Ditengah keramaian, ada suatu percakapan. Terlebih tentang kita, lagi.
Ditambah suasana yang begitu hijau didepan mata, katakanlah sawah. Iya, dan itu hijau. Tempat favorite, meski ndak terfavorit tetapi kita sering mengunjungi tempat itu. Jarak 2KM dari kampus, bahkan lebih atau mungkin 3KM atau 4KM mungkin??
Ditambah seru semangkuk es buah siap menemani percakapan.
Banyak hal yang harus kita bahas, dari nol. Sesuatu tentang diriku, sesuatu tentang dirinya pula.
banyak tanda tanya disetiap kita jumpa, bahkan oranglain pun kadang bertanya tanya tentang kita berdua.
Okeh, mari kita kupas dari awal.

Dari semester 1-akhir semester 4 tidak pernah mengobrol sesuatu yang intim dalam tanda kurung basa basi. Contohnya : “eh nes, dari mana?” “eh vit, kenapa ga masuk?” mana ada devit maupun agnes yang saling menanyakan hal seperti itu. Mungkin kalau ketemu dijalan “eh duluan ya”. Sampai inget aku pernah membuka topic pembicaraan waktu awal semester 1 bertanya “eh, logat banyuwangi kayak gitu ngomongnya?” dan itu pertama kali buka topic pembicaraan antara semester 1-4 ini.

Lalu yang semester dua dan tiga? Hehehe entahlah, tidak pernah ada maksud untuk memperhatikannya.
Lalu yang semester empat? Sebulan sebelum UAS waktu itu ditugaskan menjadi penanggung jawab band jurusan dari acara bulan pendidikan. Yang terdiri dari beberapa anak salah satunya dia.
Dan saat itu pula sebagai PJ, harus memiliki CP dari masing masing personil, saat itu pula mulai deh invite BBM dikarenakan tidak punya informasi nomor HPnya dia. Setelah itu mulai kenal (KENAL)-garis bawah

Lalu mulai suka dari mana?
Dari menjadi penanggung jawab, banyak masalah yang memang harus diselesaikan, banyak sekali problem. Rumit, hampir kehabisan akal. Salah satunya dia yang paling perduli, memang dari sifatnya yang bukan tidak mau tahu. Syukur syukur ada yang bantu mikirin. Sharing bareng, tentang band. Tidak terlintas pikiran selain diluar band. Sampai pertama nangis didepannya waktu ada masalah band, yaaah karena terlalu banyak yang difikirkan jadi biar plong aja gitu. Akhirnya dibantu mencari jalan keluar, kupikir nih anak baik banget, yang paling perduli. Ya mungkin sekedar kagum.

Lalu hanya itu saja? Tidak. Banyak hal lain, waktu mau latihan, ngasi konsumsi ke temen temen. Ternyata di kantin kulihat dia lagi masak. Tambah keren aku mengaguminya. Yang terlintas, nih anak udah baik, bisa belanja, bisa masak pula, mainin tuts piano bikin melting juga.

Hanya sekedar kagum? Tidak juga hehehe.
Pernah ada dimana aku ingin melampiaskan keteganganku disaat belajar UTS Pediatri yaitu ujian lisan. Yang awalnya ada yang mengajakku untuk belajar bareng lewat voice note BBM dengan tanya jawab, iya itu si Rahmah, yang akhirnya dia ketiduran. Dan waktu itu pula masih ngechat sama Devit. Yudah yang ada aja deh aku ajak sharing dan tanya jawab. Hitung hitung menambah ilmu jika nama terpanggil esok.

Agnes : “kelebihan kalori disebut apa vit?”
Devit : “aduh iku yo kwareken, arek TK ya isok nes hahaha”
Agnes : “itu obesitas -_- kalo kekurangan apa namanya?”
Devit : “kalo kekurangan…. Busung lapar wkwkwkw”
Agnes : “Deviiiiiiiiiiit -____-“
Devit : “aku lupa nes, apa jawabannya?”
Agnes : “marasmus”

Disaat itu pula gemes liat BBM, akhirnya voice note deh pertanyaan dan jawaban selanjutnya, pertama kali voice note mendengar suara via HP, berasa ada bisikan merdu dalam telinga, hingga larut malam.
Sesampai keesokan harinya, semua bersitegang nama siapa yang akan duduk di kursi panas nanti.
Melihat sekeliling mata mata ketegangan teman teman yang juga membuatku ikut tegang hingga tangan berubah menjadi dingin dan jantung berdegup kencang.
Satu persatu kulihat, dan mataku terhenti pada satu anak, dan ia juga memandangiku dengan tatapan yang sama, yang sebelumnya tidak pernah ada tatapan seperti itu diantara kita.
Ditambah gugup dengan itu, dan kualihkan penglihatanku.
Tunggu, masih penasaran, ternyata masih ada tatapan itu. Ah lupakan, hanya perasaanku saja.

Dimana ada kisah saat pergi hiking. Tidak tahunya, okki menyuruh aku semotor sama devit, yang awalnya gugup jika dipasangkan semotor sama devit. Kita saling bercengkeramah, bertukar cerita di pemberangkatan selama kurang lebih 3 jam lamanya.
Setelah sesampainya di pos pendaftaran dan memulai untuk keatas, yang aku rasakan dia selalu tepat berada dibelakangku. Entah aku berada di urutan 1 atau 2 atau 3 dia tetap dibelakangku. Hingga ditengah perjalanan ada suatu keadaan yang terjadi, iya, agnes menggigil. Dibantunya hingga sesampai puncak dengan menggandeng tanganku, dan itu tidak lepas selama beberapa menit atau puluhan menit atau sejam dua jam? Entahlah. Aku merasakan kehangatan. Aku merasakan kenyamanan.

Bergitu indah bulan dan para bintang, hingga aku tak ingin memejamkan mataku, dan kita bercengkeramah dari malam hingga fajar menjelang. Itu mungkin percakapan terlama untuk yang pertama diantara kita. Mungkin telah berlangsung 7 jam lamanya kita mengobrol, bahkan lebih.

Hari demi hari saling memberi kabar dan informasi, dan ada dimana hari yang memang kusengaja untuk tidak menghubunginya. Ternyata dia mencari, dan kupastikan lagi, apakah benar benar mencari atau tidak.

Setelah itu, kita sering menghabiskan waktu, bertukar pikiran, mengerjakan tugas bersama, dan banyak hal lain yang membuat jarak kita semakin dekat dan mengarah sampai akhirnya ada saat semua harus diutarakan.

Pernah ada pertanyaannya “kok bisa?”
Ini cinta, tak perlulah cinta membutuhkan waktu yang lama untuk tahu keberadaannya, ia tak pernah salah dalam memilih. Dan ini cinta, cinta segitiga. “Aku- kamu- Tuhan. Titik.”
Cinta tanpa tanda tanya. Cinta tanpa kenapa begini. Cinta tanpa kenapa begitu.
Ada ribuan kamu dikepala, menyerang logika. Bisa-bisanya tak butuh banyak putaran waktu, untuk jatuh kepadamu.


Friday, 19 June 2015

hatiku meredam-

Ada banyak pintu yang sengaja aku tutup secara paksa. Ada satu pintu yang rela kubuka hanya untuk melihat sebuah cahaya, iya itu cahaya yang kupilih untuk lebih menunjukkanku jalan yang sesungguhnya. Ada berapa cahaya yang sepertinya? Ada berapa orang yang sepertiku yang menemukan cahaya seperti cahayaku?

Cahayaku hilang, ia pergi menolong orang lain yang sama seperti diriku, tapi itu lain. Sang cahaya hanya ingin menunjukkan apa yang dapat ia perbuat demi orang itu.


Gelap, pintu yang kubuka awalnya, sedikit kututup. Cahayanya terlalu terang untukku, maka dari itu ia membagi cahayanya sebagai dirinya sendiri. Iya ini aku, aku tak mau cahaya yang bukan darinya. Aku menunggu cahaya itu datang lagi, dibawah awan gelap yang menggumpal tebal tepat diatasku. Kurasa hujan akan turun, kurasa…
Aku cemburu, karena aku takut. Aku takut gelap. Cahaya itu bahagiaku, sekarang, suatu saat, dan nantinya.
Aku cemburu, karena aku egois. Maafkan aku yang terlalu menuntut untuk menjadi yang pertama dalam semua daftar kepentingan dalam hidupmu sayang, aku terlalu takut suatu saat jika ada yang mengancam kedudukanku dalam cintamu. Kurasakan hati ini meradang dengan kesedihan, kemarahan.
Tapi aku tak ingin kau terganggu dengan sikapku yang terkadang menjadi dingin ketika aku meredam segala kegelisahan, namun aku juga tak ingin kau terganggu oleh semua ocehan dan keluhanku.



Tapi, semoga kau paham, bahwa aku disini bukan wanita yang benar kuat adanya.
Semoga kau pantas untuk aku cemburui sayang..

Thursday, 18 June 2015

Tidak Dicintaimu

Karena aku sudah terlanjur mencintaimu, seperti rahim yang tak mungkin menelan lagi anaknya. Sekalipun laba-laba telah membangun sarangnya dalam hatimu, sesungguhnya aku tidak ingin keluar atau biarlah di dalamnya aku disekap! Dengan nafas yang terengah-engah, teriring isak yang tersandung-sandung di tenggorokan, inilah aku yang betapa ingin membangkitkanmu yang tergeletak. Mungkin ini garis terberat aku mencintaimu. Ada baiknya aku memohon ampun, mengakui kelemahan, menjunjung tinggi belas kasihan dan tak lupa berterima-kasih. Sayang, aku tidak hanya ingin sekadar ada, tetapi siap dan lagi bisa. Bila lengah mata melihat atau lelah pundak memikul, ketahuilah langkahku tetaplah engkau!
Aku ingin terlempar untuk membentur bola matamu, lalu terus menggelinding di atas tiap esokmu. Bagiku, wajah yang dipukul telak masih lebih ringan daripada tidak dipeluk kamu di saat-saat seperti ini. Karena tidak dicintaimu adalah sesuatu yang baru, yang membuatku merasa asing di antara segala hati yang membuka pintunya.
Di dalam tubuhku, di dalam hidupku, kaulah darahku, alasan degup jantungku! Kini aku merasa bahwa hatimu telah menelanku hidup-hidup. Apakah aku melantur? Tidak. Aku hanya takut menjadi bangkai di dalam hatimu. Itu saja.

Saturday, 6 June 2015

Percakapan-

“Mencanduimu”

Devit : “sayang itu, ibarat narkoba semakin di nikmati semakin kepingin lagi dan lagi.”

Agnes : “kau tahu, bukan hanya itu. Aku berbicara tentang rindu. Kurasa ini bukan hanya sekedar rindu vit, melainkan aku mencanduimu. Bahkan kau lebih dari sekedar narkotika buatku.”

Devit :” jika seperti itu, aku sependapat, ketika ini bukan lagi sekedar suka atau cinta, bahkan lebih dari ini itu, aku merasakan pula seperti itu. Dan kamu yang membuatku terasa hidup kembali. Untuk harapanku, semoga aku menjadi pemimpin, dan aku bisa membanggakan semua orang terutama orang yang mencintaiku.”

Agnes : “bukan aku yang membuatmu hidup kembali, melainkan ini adalah semangatmu. Ini adalah semangatmu untuk jatuh cinta lagi, semangatmu untuk membuka hatimu lagi. Ternyata aku berhasil, aku tidak hanya mengetuk hatimu, melainkan mendobrak pintu hatimu untuk jatuh cinta lagi. Dan kamu, sekarang, bukan hanya sekedar pemimpin bagi dirimu sendiri. Untuk itu, berbanggalah pada dirimu sendiri, bahwa kau lebih mampu dari apa yang kau harapkan.”

Devit : “aku bukan mengatakan soal cinta, tetapi berkata seluruh total hidupku merasa telah bangkit kembali”
Kamu beda, denganmu kubisa merubah semua, dan diriku mampu mengecat ulang rumah yang kusam. Dan aku dapat bangun dari tidurku yang lama.

Agnes : “ketahuilah setiap orang yang kau jumpai itu berbeda. Hal yang dapat mengistimewakanku adalah dirimu sendiri.
Dan kau hanya tidur sejenak, disini kau bukanlah pangeran tidur dan menunggu putrid berkudamu untuk mencium dan membangunkanmu bangkit. Disini kau hanyalah seorang Devit yang butuh seseorang untuk dapat menjadikanmu Devit yang baru.”

Devit : “yang terpenting, dengamu aku mampu dan ku akan rubah dunia, walaupun aku telah sadar bahwa kumasih belum punya apa apa yang kubanggakan bukanlah harta pangkat atau tahta. Tapi kelak akan ku buktikan semua”

Agnes : “kamu memang hanyalah tulang dan seonggok daging. Tapi sungguh aku percaya kau. Aku mempercayaimu bahwa kelak nantinya kaulah yang dapat merubah hidupmu.”

Devit : “semoga kita bersama bisa saling melengkapi, tak akan tergoyah walau ada badai datang, walau jurang menantikan kita. Ibarat pepes yang mentah, dan harus membutuhkan api untuk supaya aku bisa matang”

Agnes : “api adalah cinta kita, dan aku hanyalah arang dan batu bara agar membuatmu menjadi matang. Aku bukanlah penikmatmu yang hanya terima hidanganmu. Aku adalah prosesmu”

Devit : “hahahaha, kita bicara jauh tentang itu, harapanmu apa untuk saat ini?”

Agnes : “kau tahu saat ini aku berharap banyak.”

Devit : “silahkan list dalam daftar, coretlah yang telah tercapai, buatlah catatan harapan sayang”

Agnes : “aku takut nanti lembar yang aku tulis tidak muat, dan tinta yang aku gunakan tidak cukup”

Devit : “jika nantinya lembaranmu tidak muat, silahkan gunakanlah milikku, jika nantinya tintanya habis, pakailah darahku. Pasti itu akan cukup.”

Agnes : “bagaimana jika aku hanya ingin menulis dalam hatimu?”

Devit :”akan ku gusur terlebih dahulu bangunan yang ada di hatiku”

Agnes : “lalu jika seperti itu bagaimana caraku menulisnya? Boleh kau tunjukkan bagaimana caranya sayang? Tolong tunjukkan aku, bagaimana ku melakukannya?

Devit : “jawabannya ada di dalam hati kita masing masing. Malam ini sudah terlalu larut, tidurlah, aku tak ingin ada garis hitam dibawah indahnya mata kamu”

Agnes : “baiklah, tidurlah kau dengan segera, berdoalah malaikat menjagamu, mimpikan aku selagi bisa. Ku nantikan kau dilain hari saat kita berjumpa”

Devit : “selamat tidur”

KAULAH

Tunggu sebentar, kau mungkin tidak tahu, biar ku beri tahu, seketika ruangan ini menghangat, aku curiga ada seseorang yang mematikan AC. Tapi kurasa, abjad yang kau susun di layar handphone, berhasil menembus hati yang menggigil karena rindu. Tapi tetap, selalu kunanti peluk itu.

Kadang kala, pelukmu tak dapat terganti oleh kata-kata, nanti jika jarak kembali mengetuk-ngetuk jendela. Dekap aku selagi bisa. Ya, entah kenapa jarak selalu suka berada ditengah-tengah kita.
Dan ini, rindumu, rindumu telah menembus nadiku, kini ia berlayar tepat di jantungku. Sungguh saat ini aku ingin memerintahkan kakimu, membawaku tepat dihadapanku. Ditambah dengan suara rintikan hujan menghantarkan rindu yang semakin besar. Ku akan menulis namamu di setiap kaca basah yang kujumpa, bila tak satupun kaca lembab yang basah yang ku temui, percayalah, kutulis namamu dipapan langit sepanjang waktu yang aku punya.
Memang benar, kau telah memasang nyawa ditiap jari jemari tanganku, kaulah waktu yang ditetapkan, mengitari hidupku, memutari mataku, dan bersarang dihatiku.

aku suka caramu

Aku tersenyum, kau memperhatikanku. Bukan karena mengapa aku tersenyum, melainkan kau memperhatikan tawa demi tawaku.

Sorot matamu, iya itu dia, begitu tajam. Seolah memang kau hanya memandangku dan seolah tak ada keindahan lainnya selain didepan apa yang kau pandangi.


Oh, sayangku bidadari mana yang tak jatuh pada tatapanmu itu, tatapan yang sangat menggoda. Dua mata yang sangat kuat, kau tidak melotot, tapi tatapanmu halus dan tajam. Seperti terjun bebas dan dibawah ada matras yang super lembutnya seperti awan dan kapas *lagi bayangin arum manis*. Itu sudaaaah..

Sungguh, aku suka caramu, caramu untuk membuatku senyum, caramu menegurku, caramu membuatku sedih, caramu untuk membuatku jatuh hati lagi dan lagi.
Sekali lagi, apakah kau tidak bosan bosannya membuatku jatuh hati oleh pesonamu? Oh sayang, dimana lagi aku harus mencari orang sepertimu, kurasa itu hanya ada padamu. Hanya kamu, disana mungkin ada yang jauh lebih padamu, tapi tidak dengan hatimu, hatimu yang besar yang kau hadiahkan setiap harinya padaku. Terimakasih, caramu mencintaiku, yang tak dimiliki oranglain manapun. Apakah itu salah satu caramu menghapus lukaku?



Teruntukmu, yang selalu menyayangi aku

Seperti  ada di dalam hutan yang begitu rimbun sehingga cahaya matahari pun tak mampu menembusnya. Hutan yang sangat lebat, dan hanya aku...